Kelapa, Nilam, Sagu: Cara Petani Kecil Mentawai Bertahan Menghadapi Harga dan Iklim
Di kebun-kebun kecil Mentawai, kelapa berdiri sebagai jangkar yang paling stabil; di sela-selanya petani menanam nilam, pinang, pisang, cengkeh, dan ubi jalar — bukan karena ikut-ikutan, melainkan sebagai siasat yang terdokumentasi menghadapi harga yang naik-turun dan iklim yang berubah.
Kalau ekonomi Kepulauan Mentawai digambar sebagai satu bidang tanah, hampir separuhnya adalah kebun, hutan, dan laut. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 47,42 persen dari PDRB kabupaten pada 2024 — jauh di atas sektor mana pun — sementara PDRB Mentawai sendiri tumbuh 3,97 persen pada tahun yang sama (BPS, via Databoks). Angka-angka dasar itu, lengkap dengan sumbernya, kami rawat di halaman Mentawai dalam Angka.
Latar tempatnya tidak bisa dilepaskan dari hitungan mana pun. Kabupaten ini dihuni sekitar 96–98 ribu jiwa — BPS mencatat 96.570 jiwa pada 2024 (via Databoks), sementara catatan registrasi sipil Desember 2024 sedikit lebih tinggi — yang tersebar di gugusan pulau seluas 5.983 km² — kepadatan hanya 15 jiwa per km², dengan Siberut Barat serendah 7 jiwa per km² (BPS, Kepulauan Mentawai Dalam Angka, data 2023). Tingkat kemiskinan naik dari 13,72 persen pada 2023 menjadi 13,89 persen pada 2024; BPS menjelaskan kenaikan garis kemiskinan itu sebagai dampak inflasi, dan Mentawai tetap menjadi wilayah prioritas pemerintah pusat untuk penurunan kemiskinan ekstrem (ANTARA Sumbar, 2024). Dengan kata lain: hampir separuh nilai ekonomi kabupaten ini lahir dari kebun, hutan, dan laut, di wilayah yang jarang, jauh, dan masih miskin.
Di balik persentase itu ada keputusan-keputusan kecil yang diambil berulang kali di lahan-lahan sempit: pohon apa yang ditanam, kapan dipanen, mana yang dijual, dan mana yang disimpan untuk dimakan sendiri. Artikel ini membaca keputusan-keputusan itu — dari kelapa yang menjadi jangkar, nilam dan pinang yang menjadi siasat, sampai sagu yang menjadi cadangan paling tua.
Kelapa adalah komoditas yang paling bisa dipegang
Dalam kajian tentang strategi bertahan petani kecil yang ditulis para peneliti di The Conversation Indonesia (2025), kelapa disebut sebagai komoditas paling stabil bagi petani di Siberut. Stabil di sini bukan berarti harganya tinggi — melainkan bahwa pohonnya selalu berbuah, pembelinya selalu ada, dan panennya tidak menuntut modal besar atau peralatan khusus. Bagi rumah tangga yang jauh dari bank dan jauh dari pasar besar, sifat "selalu ada" itu bernilai lebih daripada harga puncak yang datang sesekali.
Kelapa juga komoditas yang sabar terhadap logistik kepulauan. Kopra tidak busuk dalam hitungan hari; ia bisa menunggu kapal. Dan menunggu kapal adalah bagian tetap dari hidup di gugusan pulau yang terpisah kira-kira 100–150 kilometer laut dari pantai barat Sumatra. Di kabupaten yang perdagangannya bergantung pada jadwal penyeberangan yang berputar menurut hari dan tunduk pada cuaca — cara kerjanya kami uraikan di artikel penyeberangan Padang–Mentawai — daya tahan seperti itu ikut menentukan tanaman mana yang masuk akal untuk ditanam. Buah yang harus tiba segar di Padang adalah pertaruhan melawan jadwal; kopra yang sanggup menunggu adalah tabungan.
Ada satu lapisan prasarana lagi yang ikut membentuk pilihan itu: listrik. PLN menargetkan 24 desa tambahan di Mentawai teraliri listrik pada 2024, dan PLN Sumatera Barat menyebut sisa desa provinsi yang belum berlistrik — sekitar 0,02 persen — sebagian besar berada di Mentawai (ANTARA, 2024); bupati yang dilantik 2025 pun masih mencantumkan pemerataan listrik di antara enam program prioritasnya (mentawaikita.com, 2025). Selama listrik belum merata, pengolahan hasil kebun yang paling realistis adalah yang bisa dikerjakan dengan matahari, api, dan tangan — dan kopra, lagi-lagi, lolos dari saringan itu.
Satu lahan, banyak tanaman: siasat yang terdokumentasi
Yang menarik dari kajian yang sama adalah apa yang ditanam petani di sekeliling kelapanya. Para peneliti mendokumentasikan petani kecil di Mentawai yang merotasi dan mencampur beberapa tanaman pada lahan yang sama: nilam (penghasil minyak atsiri), kelapa, pinang, pisang, cengkeh, dan ubi jalar (The Conversation Indonesia, 2025). Kajian itu membacanya sebagai strategi adaptasi terhadap perubahan iklim — dan terhadap harga.
Logikanya sederhana dan tua: tanaman yang berbeda gagal dengan cara yang berbeda. Nilam bisa dipanen dalam hitungan bulan dan menghasilkan uang tunai cepat; harganya bisa melonjak dan bisa jatuh. Kelapa dan pinang lambat, tetapi terus memberi. Cengkeh datang musiman dengan harga yang punya riwayat naik-turun panjang. Pisang dan ubi jalar bisa dijual di pasar terdekat — atau dimakan sendiri ketika tidak ada yang membeli. Ketika satu tanaman dipukul kekeringan, hama, atau harga yang runtuh, tanaman lain menahan rumah tangga agar tidak ikut runtuh.
- Cepat: nilam — kas jangka pendek, harga bergejolak.
- Tetap: kelapa dan pinang — panen berulang, pasar selalu ada.
- Musiman: cengkeh — nilai tinggi, datangnya tidak setiap saat.
- Pangan: pisang dan ubi jalar — bisa dijual, bisa dimakan.
Pembagian peran di atas adalah cara membaca temuan para peneliti, bukan angka baku; yang terdokumentasi adalah praktik campur dan rotasinya (The Conversation Indonesia, 2025). Pola serupa punya akar sejarah di Siberut: ekonomi uang di pulau itu lama dibentuk oleh kayu, rotan, gaharu, dan cengkeh (theglobal-review.com; tfcasumatera.org). Tentang rotan — komoditas hutan yang masih hidup betul di Siberut hari ini — kami menulis terpisah di jalan panjang rotan manau dari Siberut ke Cirebon.
Konteks nasional: pasar kelapa besar, arah kopra menurun
Angka-angka berikut adalah angka nasional, bukan angka Mentawai — kami cantumkan sebagai latar pasar tempat kopra dan kakao Mentawai bermuara. Indonesia adalah produsen dan pengekspor kelapa terbesar dunia, dengan luas tanam sekitar 3,29 juta hektare dan produksi sekitar 2,78 juta ton (data dihimpun Kompas, 2024; lihat juga Outlook Kelapa, Kementerian Pertanian, 2022). Pada saat yang sama, produksi kopra nasional tercatat menurun sepanjang 2021–2024 (Kompas, 2024).
Untuk kakao, produksi biji kering nasional 2024 sekitar 617.110 ton dari sekitar 1,37 juta hektare, dengan Sumatra sebagai wilayah produsen kedua setelah Sulawesi (Kompas, 2024). Bagi petani di kepulauan, latar ini penting dibaca dua arah: pasarnya besar dan nyata, tetapi arah kopra yang menurun secara nasional berarti mengandalkan satu komoditas saja — justru komoditas yang paling "aman" — punya risikonya sendiri. Siasat campur di kebun Mentawai, dilihat dari sini, bukan keterbelakangan; ia justru manajemen risiko.
Angka Mentawai yang belum bisa kami tulis
Di sinilah halaman ini harus jujur: berapa ton kelapa, kopra, dan kakao yang dihasilkan Kepulauan Mentawai per tahun — angka itu tidak kami cetak di sini, karena kami belum memverifikasinya pada tabel resmi. Rujukan yang benar untuk tonase per kecamatan adalah publikasi tahunan BPS, "Kabupaten Kepulauan Mentawai Dalam Angka" di mentawaikab.bps.go.id. Menulis perkiraan tanpa tabel itu berarti mengarang — dan pembaca yang hendak berhitung modal usaha pengeringan kopra atau pengepulan pinang butuh angka, bukan karangan. Angka yang sudah terverifikasi tempatnya di halaman Mentawai dalam Angka, lengkap dengan tanggal pembaruannya.
Sagu dan keladi: lumbung yang tidak perlu dibeli
Lapisan paling bawah dari strategi bertahan petani Mentawai bukan komoditas ekspor sama sekali. Sagu adalah pangan pokok tradisional kepulauan ini — tumbuh di rawa, tanpa pupuk, tanpa irigasi — didampingi keladi dan pisang sebagai pangan inti lainnya (Sagu dan Uma, 2024). Kedudukannya bukan hanya soal kalori: dalam adat Mentawai, ladang sagu ikut dalam urusan mas kawin — bersama durian dan keladi — dan sagu hadir dalam persembahan adat (Sagu dan Uma, 2024).
Sebagai tanaman, sagu hampir merupakan kebalikan dari komoditas dagang: ia tumbuh di rawa tanpa pupuk dan tanpa irigasi (Sagu dan Uma, 2024) — lahan yang tidak diperebutkan tanaman dagang mana pun. Ia juga tidak menuntut dipanen pada tanggal tertentu — pati di dalam batangnya menunggu sampai dibutuhkan. Bagi rumah tangga petani, itu berarti sagu tidak bersaing dengan kelapa, nilam, atau cengkeh dalam memperebutkan tenaga dan lahan; ia duduk di lapisan lain sama sekali.
Namun para peneliti mencatat pergeseran panjang dari sagu ke beras, dengan sagu sempat distigma sebagai pangan "terbelakang"; sejumlah kajian membacanya sebagai hilangnya kemandirian pangan masyarakat adat (Society, FISIP Universitas Bangka Belitung; estungkara.id). Ujian yang paling jelas datang pada masa COVID-19: ketika beras sulit didapat, rumah tangga Mentawai dilaporkan sebagian kembali ke sagu dan keladi (studi ketahanan pangan era COVID, Jurnal AAJ Universitas Malikussaleh).
Bagi pembaca yang memikirkan usaha, episode itu adalah data, bukan nostalgia. Rantai pasok beras ke kepulauan ini panjang — menyeberangi laut yang sama dengan semen dan bahan bakar — dan rawa sagu adalah lumbung yang sudah terpasang di tempat, yang tidak menagih ongkos kapal. Ekonomi pangan lokal, dalam bahasa para penelitinya, adalah soal ketangguhan (resilience): kemampuan sebuah rumah tangga pulau untuk tetap makan ketika jalur pasokannya terputus.
Apa artinya bagi yang mau berusaha di rantai ini
Dari bahan-bahan yang terdokumentasi di atas, gambar besarnya kira-kira begini. Pertama, kebun campur Mentawai bukan masalah yang harus "dimodernisasi" menjadi monokultur; ia adalah arsitektur risiko yang dibangun petani sendiri, dan usaha apa pun — pengepul, pengering, pengangkut — sebaiknya bekerja mengikuti arsitektur itu, bukan melawannya. Kedua, komoditas yang paling stabil (kelapa) beroperasi di pasar nasional yang arah kopranya sedang menurun (Kompas, 2024), sehingga nilai tambah — pengolahan, mutu, kemasan — lebih menjanjikan daripada sekadar volume. Ketiga, lapisan pangan (sagu, keladi, pisang) adalah penyangga yang membuat rumah tangga petani sanggup menunggu harga; melemahkannya berarti memaksa petani menjual murah.
Yang belum ada dalam gambar ini adalah angka produksi Mentawai sendiri — dan itu bukan basa-basi metodologis. Selisih antara "kelapa itu stabil" dan "sekian ton kopra keluar dari Sikakap tahun lalu" adalah selisih antara firasat dan rencana usaha. Sampai tabel BPS terverifikasi, yang bisa ditulis dengan jujur adalah strateginya; angkanya menunggu tabel BPS. Bagi yang menghitung modal untuk masuk ke rantai ini, aturan kredit usaha rakyat yang berlaku mulai 2026 kami uraikan di KUR dari kepulauan.
Sumber
- The Conversation Indonesia — Nasib petani kecil di tengah perubahan iklim: strategi bertahan dari Mentawai hingga Fakfak (2025)
- Kompas (data) — Statistik kelapa, kopra, dan kakao nasional (2024)
- Kementerian Pertanian — Outlook Kelapa (2022)
- Databoks Katadata — Sektor utama penggerak perekonomian Kepulauan Mentawai 2024 (2024)
- Databoks Katadata — Jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Mentawai 2024 (2024)
- ANTARA Sumbar — Garis kemiskinan Kabupaten Kepulauan Mentawai naik pada 2024 (2024)
- ANTARA — PLN Sumbar targetkan 24 desa di Mentawai teraliri listrik di 2024 (2024)
- Mentawaikita — Enam program prioritas bupati dan wakil bupati Mentawai usai dilantik (2025)
- BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai — Kabupaten Kepulauan Mentawai Dalam Angka 2024 (2024)
- Sagu dan Uma — Sagu dan Uma: Simbol Ketahanan Pangan Masyarakat Mentawai (2024)
- Jurnal AAJ, Universitas Malikussaleh — Studi ketahanan pangan Mentawai era COVID-19 (jurnal)
- Society, FISIP Universitas Bangka Belitung — Kajian pergeseran pangan pokok masyarakat adat Mentawai (jurnal)
- Estungkara — Hilangnya kemandirian pangan di masyarakat adat Mentawai (diakses 2026)
- The Global Review — Resensi: Merebut Kembali Hutan Siberut untuk Masyarakat Adat Mentawai (diakses 2026)
- TFCA Sumatera — Hutan di mata masyarakat Mentawai (diakses 2026)